Label

Sabtu, 09 Januari 2010

Pertamina Semakin Panas




Ini mungkin hanya terjadi di Indonesia. Di sini, pemerintahnya justru lebih senang memihak perusahaan asing ketimbang perusahaan domestik—yang bahkan sahamnya dimiliki oleh pemerintahnya sendiri. Tengok saja, ketika sekarang Pertamina tengah bersitegang dengan ExxonMobil seputar pengelolaan ladang migas Cepu, pemerintah (selaku pemilik Pertamina) justru lebih condong ke Exxon. Begitu juga ketika Pertamina berusaha menafikan klaim gugatan senilai US$ 299 juta dari Karaha Bodas Company—asal Amerika. Pemerintah lagi-lagi lebih berpihak ke “sana”. Namun, Pertamina adalah Pertamina. Perusahaan ini boleh saja selalu dihinggapi masalah. Posisi puncak di BUMN itu juga ibarat kursi panas yang selalu membuat siapa pun bisa “terbakar” oleh banyaknya persoalan. Namun, toh pesona perusahaan pelat merah ini tetap luar biasa. Makanya selalu ada saja yang mau menjadi petingginya. Dan, dalam sepekan silam, beredarlah nama-nama yang disebut-sebut akan menjadi pemimpin baru di BUMN yang berkantor pusat di Medan Merdeka Timur, Jakarta, itu.
Lantas, tersebutlah nama Ary Sumarno, Direktur Pemasaran Niaga Pertamina saat ini, yang dikabarkan akan menjadi bos baru Pertamina, menggantikan Widya Purnama. Iin Arifin Takhyan yang kini menjabat sebagai Dirjen Migas juga sempat dijagokan. Tapi, katanya, Iin akan menjadi Wakil Direktur Utama. Lalu, ada juga nama Sonny Sumarsono yang bakal menjadi Direktur Umum dan SDM, A. Faisal (calon Direktur Pemasaran dan Niaga), Kun Kurnely (Direktur Hulu), A. Suroso (Direktur Pengolahan), dan Djaelani Sutomo (calon Deputi Direktur Pemasaran Niaga). Nama-nama itu beredar dari satu layar ponsel ke layar ponsel lainnya—melalui SMS—dan kemudian menjadi isu rame-rame. Beberapa orang yang namanya disebut di sana membantahnya. Suroso mengaku tak pernah tahu tentang kabar tersebut. Ary Sumarno sepertinya juga jengah mendengar selentingan itu. Djaelani malah terkekeh-kekeh. “Saya ini masih anak kemarin sore. Belum ada potongan buat jadi pejabat,” ujarnya. Semua orang memang bisa saja berkelit. Yang jelas, sinyal bakal adanya perombakan manajemen Pertamina tak bisa lagi dibantah. Soalnya, pekan silam, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah menegaskan soal itu di sela-sela kunjungan kenegaraan ke Yangoon, Myanmar. Menurut Presiden, Pertamina sudah seharusnya segera melakukan overhaul. Jadilah Widya Purnama sekarang ibarat sedang menghitung hari, menanti masa terakhirnya di Pertamina. Ini kali, sepertinya ia akan sulit bertahan. Apalagi, sejak agak lama Widya kurang disukai para petinggi negara. Tercatat, Menteri Negara BUMN, Sugiharto, sudah mengirim tujuh kali surat peringatan kepada bos Pertamina itu. Kalaupun posisi Widya selama ini aman dalam beberapa bulan terakhir, menurut seorang sumber, itu lebih karena ia dilindungi oleh Sudi Silalahi, Sekretaris Kabinet RI. Makanya ketika Sudi sekarang digoyang isu surat sakti, posisi Widya ikut-ikutan rawan. Namun, Widya tegas-tegas membantah hubungan antara dirinya dengan Sudi. “Jangan kait-kaitkan itu. Kasihan Pak Sudi. Beliau tidak punya hubungan apa-apa dengan Pertamina,” ujarnya. Ada atau tidak ada hubungan itu, tak banyak orang yang tahu. Yang pasti, posisi Widya sekarang tidak terlalu menguntungkan. Kendati begitu, Alfred Rohimone (Direktur Keuangan Pertamina) menegaskan belum ada satu nama pun yang sudah resmi diajukan kepada pemerintah sebagai calon anggota direksi baru Pertamina. Yang beredar lewat SMS tadi, kata Alfred, hanyalah permainan orang-orang politik. “Tapi, memang ada dari mereka yang benar-benar berharap jadi Direksi,” katanya. Seorang pejabat Pertamina lainnya mengamini keterangan Alfred. Menurutnya, memang ada sejumlah orang yang berusaha mendekat “ke atas” untuk berharap jabatan direktur. Nah, terhadap mereka yang seperti itu, sang sumber mengaku tak habis pikir. Soalnya, menjadi Direktur Pertamina sekarang sungguh bukan pekerjaan yang nyaman. Pejabat Pertamina yang menjadi sumber itu lalu menyebutkan bahwa tugas Direksi Pertamina nantinya adalah memuluskan masuknya ExxonMobil menjadi operator di Blok Cepu. Sekadar mengingatkan, Blok Cepu adalah ladang minyak dan gas raksasa di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebelumnya, sudah disepakati bahwa Cepu akan digarap kontraktornya dengan sistem bagi hasil. Pemerintah RI menerima bagian 85%--dengan asumsi harga minyak di atas US$ 45 per barel. Yang 15% dibagi untuk para kontraktor: ExxonMobil, Pertamina, dan pemerintah daerah. Exxon dan Pertamina mendapat masing-masing 45% dari yang 15% tadi. Sisa yang 10% bakal didapat pemerintah daerah. Terganjal Exxon, Karaha, Parigi, dan Dividen Pertamina dan Exxon ternyata tak bisa menyepakati pola pembagian kerja di Cepu. Exxon ingin menjadi operator tunggal selama 30 tahun. Tapi Pertamina meminta agar pengelolaan Cepu dilakukan bergantian oleh Pertamina dan Exxon, masing-masing selama lima tahun. Dua-duanya sama-sama ngotot. Pemerintah RI lalu menawarkan agar Pertamina dan Exxon membentuk perusahaan patungan baru. Masalahnya, Pertamina dan Exxon juga bisa berantem lagi dalam memperebutkan posisi general manager (GM) untuk perusahaan patungan baru tadi. Namun, di sinilah nantinya direksi yang baru berperan. Mereka akan mengalah dan menyerahkan jabatan GM kepada Exxon. Pejabat-pejabat pemerintah pun sedari sekarang sudah mengatakan bahwa “pengelolaan Blok Cepu bukan urusan nasionalisme, tetapi ini masalah profesionalisme.” Sebuah pernyataan yang arahnya gampang benar ditebak. Tidak itu saja, direksi baru juga akan menghadapi sejumlah persoalan lama--yang sempat ditanyakan pemerintah dalam RUPS Pertamina, Januari silam. Waktu itu, pemerintah--selaku pemegang saham—menyatakan kesiapan Pertamina menyediakan dana senilai US$ 299 juta untuk membayar klaim gugatan Karaha Bodas Company (sebuah perusahaan Amerika yang pernah menggugat Pertamina). Widya Purnama sebenarnya enggan membayar klaim tersebut. Tapi, kalaupun itu harus, maka ia hanya mau membayar US$ 50 juta. Persoalan lainnya, pemerintah juga menyalahkan Direksi Pertamina karena telah membatalkan proses tender pengelolaan ladang gas Blok L Parigi, Jawa Barat, yang sebenarnya sudah terjadi pada tahun silam. Padahal, menurut sang sumber, pembatalan itu bukan karena kehendak Direksi Pertamina, melainkan karena adanya tekanan dari pihak yang kalah tender tetapi memiliki hubungan dengan pejabat tinggi di pemerintahan. “Posisi Direksi Pertamina akan sangat sulit karena masalah ini,” ujar sang sumber. Selesai? Belum. Beban lain buat Direksi Pertamina adalah soal tuntutan Kementerian BUMN agar Pertamina menyediakan dividen bagi pemerintah senilai Rp 15 triliun untuk tahun 2006. Widya Purnama memang sempat menyebutkan bahwa Pertamina bisa mendapatkan laba bersih hingga Rp 22 triliun pada tahun ini. Tapi, itu baru perhitungan optimistis. Soalnya, bisa saja laba bersih itu ternyata hanya Rp 12 triliun. Nah, biasanya, dividen untuk pemasukan anggaran negara mencapai 50% dari laba bersih. Artinya, target dividen yang ditetapkan Kementerian BUMN tadi nyata-nyata tidak realistis. Manajemen baru Pertamina akan dibikin tunggang-langgang dan anggaran negara pun bisa menjadi timpang.










Kualitas BBM Buruk


Jakarta - Masalah lingkungan saat ini memang merupakan fokus bagi banyak orang, termasukpemerintah dan pabrikan mobil.Pemerintah terutama pemerintah provinsi DKI Jakarta dan Surabaya pun saat ini sedang giat mengkampanyekan wajib uji emisi terhadap semua kendaraan yang ada.Namun ternyata hal itu dianggap tidaklah akan terlalu banyak berpengaruh bila pemerintah belum bisa memperbaiki kualitas bahan bakar yang di jual di negarakita ini."Walaupun uji emisi memang sebuah hal yang sanagt penting, kalau kualitas bahan bakarnya masih seperti ini mah enggak bakal berpengaruh banyak," ujar CEO PTGaruda Mataram Motor (GMM) Andrew Nasuri di sela-sela press launch Golf GTI di Buddha Bar, Jalan Teuku Umar, Jakarta, Kamis (5/11/2009).Sebab suka tidak suka dan percaya tidak percaya, rendah tinggi emisi gas buang sebuah kendaraan memang banyak ditentukan oleh bahan bakarnya. "Yang kemudianberpadu dengan seberapa tinggi teknologi yang ada di kendaraan itu," cetus Andrew.Jadi menurut Andrew mau tidak mau, kita harus segera mempercepat pengaplikasianstandar emisi Euro 4 agar secara alamiah mobil-mobil yang memiliki gas buang beremisi tinggi dapat hilang dengan sendirinya."Dengan perbaikan kualitas bahan bakar, mobil-mobil berteknologi canggih yang sudah menerapkan standar emisi Euro 4 yang lebih ramah lingkungan dapat masuk keIndonesia," ujarnya.Namun untuk saat ini dikala kita masih terpaksa menggunakan standar emisi Euro 2, Andrew memang menyarankan pemerintah agar lebih giat dan tegas melakukan ujiemisi agar polusi udara yang terutama banyak terjadi dikota-kota besar bisa semakin dikurangi."Untuk saat ini dan dimasa depan, pemerintah harus tegas pada hal ini (uji emisi). Sebab standar euro 2 saja banyak yang jelas-jelas melanggar. Lihat saja sendiri di jalan raya," pungkasnya.Setelah mengalami penundaan, Kepolisian rencananya akan mulai menindak mobiltanpa stiker tanda lulus uji emisi pada Januari mendatang.Penundaan itu dilakukan agar waktu sosilisasi menjadi semakin panjang. Hal itu pun juga dimaksudkan untuk menunggu peraturan pemerintah terkait kebijakan ini.





Harga Bensin Baru Rp 6.250 Per Liter


Pemilik mobil pribadi bersiaplah menghitung ulang jatah belanja BBM. Sebab mulai Maret tahun depan, pemilik mobil pribadi hanya boleh membeli bensin jenis baru yang harganya sekitar Rp 6.250 per liter. Itupun kalau pemerintah tidak menyurutkan niatnya memberi subsidi Rp 500 per liter.Itulah buah program hemat BBM mulai tahun depan. Dalam program tersebut,mobil pribadi hanya boleh membeli bensin beroktan 90. Selama ini, seliter bensin bersubsidi yang beroktan 88 harganya Rp 4.500.Seharusnya, harga bensin jenis baru beroktan 90 itu sekitar Rp 6.750 per liter. Tapi, pemerintah berniat masih memberi subsidi Rp 500 seliter."Rencananya, pemerintah akan menyiapkan BBM ini sebanyak tiga juta kilo liter buat uji coba," kata Direktur Jenderal Migas Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Luluk Sumiarso kepada KONTAN.Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) merencanakan uji coba penjualan bensin jenis baru beroktan 90 itu di Jakarta. "Baru di Jakarta saja, program ini bisa menghemat Rp 6 triliun. Tentunya penghematan subsidi akan semakin besar jika program ini sudah berlaku secara luas" kata Kepala Bappenas Paskah Suzetta.Kelak, hanya angkutan umum dan sepeda motor yang berhak menikmati bensin bersubsidi. Guna mengawasinya, pemerintah telah menyiapkan kartu pintar atau smart card untuk pembeli BBM bersubsidi. Kartu itu berfungsi untuk mengontrol sekaligus membatasi pembelian BBM bersubsidi. Rencananya, ujicoba pemakaian kartu pintar ini mulai berlangsung pada Maret 2008.Jadi, setiap pengemudi kendaraan umum dan sepeda motor wajib memiliki smart card yang yang mencantumkan batas volume pembelian premium. Kalau jatah pembeliannya dalam satu hari sudah habis, maka petugas pengisi BBM berhakuntuk menolak melayani orang tersebut.Usul penggunaan smart card datang dari Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas). "Nantinya akan kami uji coba dulu untuk mengetahui efektivitasnya," ujar Anggota Komite BPH Migas Ibrahim Hasyim.Ibrahim mengatakan, untuk mengurangi penyelewengan, pemerintah akan membentuk lembaga pengawasan. Lembaga itu yang menentukan siapa saja yang boleh pakai BBM murah.


sumber: http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=5066&post=1

Pengumuman Perawatan/Maintenance Peralatan Instrumentasi Kilang


PT PERTAMINA (PERSERO) Refinery Unit VI Balongan merencanakan Pelelangan Pekerjaan :
Perawatan/Maintenance Peralatan Instrumentasi Kilang (Transmitter, Flow Element, Converter, Swith, Thermo Element / Thermo Well, Safe Guarding System) Control Valve dan Presure Safety Valve pada saat Turnaround Kilang Langit Biru Balongan 2010.Peserta lelang harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :
Perusahaan yang bisnis Intinya adalah Pemeliharaan Peralatan Instrumentasi Kilang minyak atau Petrokimia.
Syarat Pendaftaran.
Menyerahkan surat permohonan asli untuk mengikuti proses pelelangan yang ditandatangani oleh Direktur/wakil direktur perusahaan sesuai yang tercantum dalam akte perusahaan.
Menyerahkan copy biodata perusahaan dan menunjukan asli.
Neraca Perusahaan Terakhir (31 Desember tahun 2008) yang diaudit oleh Akuntan Publik beserta rincian dan opininya.
NPWP dan Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak.
Akte Pendirian Perusahaan beserta perubahannya ( jika ada perubahan ) dilengkapi surat pengesahan Menteri Kehakiman dan HAM bagi perusahaan berbentuk Perseroan Terbatas (PT).
Daftar Pengalaman keberhasilan pernah melaksanakan Pekerjaan perbaikan & kalibrasi Instrumentasi dan Sertifikasi PSV pada Turnaround Kilang /Petrkomia atau EPC-Project dalam 5 (lima) tahun terakhir dibuktikan dengan copy Surat Perjanjian Borongan (SPB) dan copy Berita Acara Penyerahan Pekerjaan.
Kepemilikan sendiri Peralatan Kalibrasi ( Multi Meter, Current Injection, Portable Kalibrasi, Hand pump kalibrasi, Test Gauge) dan Bench test Safety Valve.
List Pekerja Profesional berikut Curriculum Vitae disertai Experience Record
Surat pernyataan diatas materai bahwa semua informasi yang disampaikan adalah benar dan apabila ditemukan ketidak sesuaian atas informasi yang disampaikan, bersedia dikenakan sanksi administrasi berupa pembatalan keikut sertaan dalam tender pekerjaan ini.
Menyerahkan data kemampuan Safety Management dalam pekerjaan Konstruksi yang meliputi: HSE policy , HSE Objective, HSE Statistik 2 tahun terakhir, Organisasi Safety, dan HSE prosedur.
Untuk perusahaan yang telah memiliki Surat Keterangan Terdaftar (SKT) PT Pertamina (Persero) tahun 2007 yang masih berlaku tidak perlu melampirkan 2.a. s/d 2.c. diatas.
Pendaftaran dan penyampaian Biodata Perusahaan oleh Pimpinan Perusahaan atau yang mewakili perusahaan dengan Surat Kuasa bermaterai Rp. 6.000,- dari Pimpinan Perusahaan.
Pendaftaran langsung datang ke Kantor Kontrak Maintenance Planning & Support RU-VI Balongan
Tanggal
: 10 s/d 12 Nopember 2009
Pukul
: 08:00 s/d 16:00 WIB (hari kerja)
Tempat
: Kantor Kontrak Maintenance Planning & Support RU -VI Balongan Jl. Raya Balongan KM 9 Balongan, Indramayu.
Undangan peserta dan penyampaian dokumen, penjelasan serta pemasukan / pembukaan surat penawaran akan ditentukan kemudian.
Penyedia Barang/Jasa (kontraktor/Supplier) tidak dalam sengketa dengan PT PERTAMINA (Persero).
Penyedia Barang/Jasa tidak dalam pengawasan pengadilan, tidak pailit, kegiatan usahanya tidak sedang dihentikan, dan atau direksi yang berwenang menandatangani kontrak atau kuasanya tidak sedang menjalani hukuman (sanksi) pidana.
Direksi yang berwenang menandatangani kontrak atau kuasanya belum pernah dihukum berdasarkan keputusan pengadilan atas tindakan yang berkaitan dengan kondite professional perusahaan atau professional perorangan untuk bidang pengadaan barang/jasa.
Peserta yang diundang adalah peserta yang mendaftar dan dinyatakan lulus dalam seleksi biodata sesuai syarat A, B, C, D, F, G dan H.





Ketika Pertamina Ngegas, Jangan Coba Direm!


Dari serangkaian wawancara Majalah WePe dalam kesempatan berbeda di bulan November 2009 lalu, dengan Dirut yang sekaligus Direktur Hulu Pertamina Karen Agustiawan, lalu Wakil Direktur Utama selaku pelaksana tugas harian (PTH) Direktur Umum dan SDM Omar S. Anwar , Direktur Pengolahan Rukmi Hadihartini, Direktur Pemasaran dan Niaga Achmad Faisal, dan Direktur Keuangan Ferederick ST Siahaan, diketahui Pertamina sedang dalam tahap implementasi lebih konkret mencapai visi besarnya untuk menjadi national oil and gas company (NOC) kelas dunia tahun 2023. Langkah ini melanjutkan upaya perubahan yang dilakukan periodeperiode sebelumnya.Di tengah giat-giatnya melakukan terobosan, Pertamina masih terkendala persoalan klasik yang terasa kontraproduktif. Kendala ini tampak lebih pada cara pandang yang masih berbeda pada beberapa isu antara Pertamina di satu pihak dengan Pemerintah dan DPR di pihak lain.Beberapa kebijakan Pemerintah dan DPR seringkali tidak menguntungkan Pertamina. Kebijakan pelaksanaan PSO (public service obligation) yang sebetulnya sudah bisa mengutungkan Pertamina karena ada "biaya + profit" yang dikenal dengan istilah MOPS plus Alpha.
';
writethis(jsval);//-->
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
MOPS adalah standar harga BBM di pasar minyak di Singapura -- Mid Oil Platt Singapore - sebagai patokan. Dan keputusan Pemerintah dan DPR adalah menetapkan Alpha Rp 556 per liter. Asumsinya, harga minyak mentah sebagai bahan baku BBM adalah 60 - 65 dolar AS per barel. Ketika harga minyak mentah sudah melonjak ke angka 80 dolar AS per barel, biaya produksi naik, harga sewa kapal naik, mestinya DPR dan Pemerintah memberikan perubahan angka Alpha agar Pertamina tidak merugi.Pertamina berpotensi merugi sebesar Rp 240 miliar pada tahun 2010. Belum lagi beban subsidi konversi energi dari minyak tanah ke LPG yang tidak memberikan keuntungan sama sekali bagi Pertamina tapi malah dana yang dikeluarkan Pertamina belum dibayarkan oleh Pemerintah.Beban lain, Pemerintah mewajibkan menyetorkan dividen dalam jumlah yang teramat signifikan sehingga memperkecil kemungkinan investasi memadai dan proporsional bagi penguatan perusahaan.Urusan lain adalah piutang PLN, Garuda, dan TNI yang macet, dalam pembelian BBM, sehingga cukup mengganggu cashflow Pertamina, karena jumlahnya terus membengkak tanpa ada penyelesaian komprehensif dari Pemerintah selaku pemegang otoritas dan tanggung jawab dua BUMN dan institusi TNI.
•••Sementara di dalam negeri, Pertamina terus memaksimalkan tingkat penemuan cadangan baru dan tingkat produksi migas dengan upaya EOR untuk lapangan eksisting onshore, eksplorasi baru di offshore, dan akuisisi blok-blok potensial yang telah berakhir masa kontraknya dari perusahaan lain. Pertamina terus memperkuat infrastruktur kilang agar lebih efisien dengan konfigurasi yang tingkat keekonomiannya bersaing dengan kilang di luar negeri. Juga memprogramkan membangun kilang baru di Balongan (ekspansi), Bojanegera, Banten, serta di Tuban, Jawa Timur yang bekerjasama dengan partner luar negeri. Pasar terbuka di dalam negeri, terus dihadapi Pertamina dengan memperkuat SPBU-SPBU berlogo Pertamina, baik yang milik Pertamina maupun milik swasta. SPBU Pasti Pas semakin diterima masyarakat konsumen dan sanggup mengalahkan SPBU-SPBU milik Shell, Petronas, dan Total yang masuk ke Indonesia di sektor retail. Dalam pelaksanaan BBM bersubsidi (baca: BBM PSO) kini akan hadir perusahaan lain, yaitu Shell, Petronas, dan AKR. Yang masih ditunggu Pertamina hingga jelang akhir 2009 ini adalah mekanisme yang akan ditetapkan Pemerintah dalam pelaksanaan PSO BBM 2010 yang melibatkan pihak swasta asing dan swasta nasional ini. Ada harapan mekanisme ini jangan cenderung menguntungkan pihak lain, sementara Pertamina "dikorbankan" oleh kebijakan pemilik sahamnya sendiri. Di tengah situasi yang belum pasti, dalam situasi pasar yang semakin terbuka dan tanpa monopoli, Pertamina terus beru-saha mempertahankan pasar BBM non subsidi dan pelumas. Juga pasar bagi pet-rokimia, dan panasbumi. Walaupun umumnya pasar yang terbuka di negara manapun, market leader hanya bisa menguasai market share di bawah 50 persen, tapi Pertamina berusaha mencapai target 85 persen, dengan keyakinan adanya faktor historis - nasionalisme di tengan masyarakat kita.
•••Melalui UU Migas Nomor 22 Tahun 2001 Ada perubahan status badan hukum dari BUMN khusus yang pada prakteknya tidak murni bisnis, tapi lebih sarat penugasan Pemerintah, menjadi BUMN berbentuk Perseroan Terbatas (PT), sehingga pengaturannya selain mengikuti UU Nomor 22 Tahun 2001, dan secara profesional mengikuti UU Perseroan Terbatas dan UU BUMN. Posisi baru ini memberikan secercah harapan dan peluang Pertamina bisa membangun pure business entity. Problem Pertamina selama berlaku UU Nomor 8 Tahun 1971 adalah separuh kaki di kegiatan nirlaba (PSO) dan kaki yang lain di usaha komersial. Tetapi perkembangan berikutnya kaki PSO yang lebih diberatkan Pertamina.Lebih dari 70 persen keuangan Pertamina dalam periode itu adalah untuk semata-mata pengamanan suplai BBM dan gas bumi di seluruh negeri. Formulasi PSO BBM dan gas bumi saat itu adalah "biaya + fee" yang dikenal sebagai cost plus fee. Artinya Pertamina diberi ganti biaya dan fee 20 sen dolar untuk biaya pengolahan dan 20 sen dolar untuk pendistribusian setiap liter BBM. Tetapi fee ini pun masih harus dipotong pajak 60 persen. Padahal BUMN lain saat itu hanya dikenakan beban pajak sekitar 35 persen.Dalam formula MOPS plus Alpha, Pertamina mengeluarkan biaya terlebih dahulu, dan itu diganti Pemerintah dari alokasi dana subsidi BBM dan gas bumi. Tetapi pada prakteknya, tidaklah seindah apa yang dibayangkan. Memang sangat disayangkan. Ketika Pertamina ngegas untuk mempercepat lajunya, beberapa kondisi pelaksanaan PSO BBM saat ini, lalu PSO konversi minyak tanah ke LPG 3 kilogram, serta problem piutang yang macet -- sekali lagi-- menjadi persoalan yang membuat Pertamina tidak nyaman bergerak untuk bersaing di percaturan internasional. Pertamina pun menjadi tak mulus tarikan speed-nya.Urusan dividen juga menjadi bahan diskusi yang seru antara Pertamina dan Departemen Keuangan. Sebagai PT, adalah wajar belaka Pertamina menyerahkan dividen setiap tahunnya kepada pemegang saham, yang bagi Pertamina adalah Pemerintah. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Pertamina.Diskusi perlu tidaknya Pertamina berinvestasi, atau seberapa besar investasi tersebut, seringkali tarik-menarik. Di satu sisi Pemerintah butuh duit untuk APBN, di sisi lain Pertamina butuh duit untuk investasi.Dari 156 BUMN - dan sekarang jumlah ini terus berkurang-- hanya 10 BUMN saja yang bisa disebut meraup untung. Salah satunya Pertamina sebagai penghasil laba terbesar, Pemerintah lalu memberikan target agar Pertamina mampu memberikan 50 persen dari proyeksi pendapatan Pemerintah dari laba BUMN. Patokan target ini yang membuat Pertamina sulit menyisihkan untuk investasi.
•••Dana investasi juga terganggu oleh seringnya tertunggak dana subsidi yang seharusnya diterima Pertamina. Misalnya untuk subsidi BBM PSO atau tertahannya dana subsidi LPG 3 kilogram. Sejak program konversi energidari minyak tanah ke LPG digelar tahun 2007, menurut Direktur Keuangan Ferederick ST Siahaan, Pertamina telah mengeluarkan dana Rp 5,6 triliun. "Ini kan belum dibayar subsidinya," katanya.Sejak 2007 Pertamina telah meluncurkan 40 juta paket perdana LPG 3 kilogram. Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan menyebutkan, untuk pengadaan paket perdana, Pertamina tidak mendapatkan keuntungan sama sekali. Ke depan sampai tahun 2011, Pertamina menurut Karen masih harus menanggung biaya sebesar Rp 7,5 triliun. Dana itu untuk pembelian paket perdana dan biaya distribusi.Keuangan Pertamina juga terbebani oleh piutang macet di PLN, Garuda, dan TNI untuk pembelian BBM yang sebenarnya tanggung jawab Pemerintah untuk menyelesaikannya. Anggaran yang tersedia di ketiga lembaga itu tidak memadai sesuai kebutuhan mereka. Terjadilah penunggakan besar kepada Pertamina.Pihak PLN, ujar Ferederick, sebenarnya bersedia tak lagi dipasok BBM dari Pertamina. Tapi bagi Pertamina hal itu sulit dilaksanakan, karena dikhawatirkan merugikan masyarakat karena terganggu pasokan listriknya.Pertamina pun tak mungkin menyetop pasokan Avtur kepada Garuda, karena berkaitan dengan kepentingan strategis di bidang transportasi udara. Bagaimana pun, kebijakan Pertamina kalau sudah menyangkut kepentinganumum tidak dalam posisi bisa menolak. Untuk PSO baik untuk BBM subsidi maupun LPG subsidi, komitmen Pertamina adalah mendukung kebijakan Pemerintah."Kita bilang kepada Pemerintah, mudahmudahan di APBN tahun depan ini bisa diselesaikan lah ya, baik tunggakan PLN, TNI. Sama kayak dengan kasus LPG 3 kilogram pun demikian. Paket tabung perdana, ok gelontorkan dulu, gelontorkan dulu. Begitu mau ditagih, anggarannya kurang," tutur Ferederick dengan serius.Pertamina diakui Ferederick tidak bisa saklek karena membantu Pemerintah atau BUMN-BUMN. Senada apa yang dikatakan Dirut Karen Agustiawan. "PSO harus dijalankan oleh Pertamina dengan tanggung jawab mengutamakan kepentingan rakyat, kemudian kepentingan Pemerintah, baru kepentingan Pertamina sendiri," ujar Karen Agustiawan.Komitmen Pertamina ini memang tak berarti harus membuat tubuh Pertamina meleleh seperti lilin yang menerangi sekelilingnya. Di titik ini, terobosan Pemerintah sangat diharapkan. Sudah cukup Pertamina overloud tugasnya dalam periode 1971 - 2001. Pemerintah dan DPR dalam mengambil suatu kebijakan agar tidak terus-menerus membuat Pertamina terhambat investasinya. Tanpa investasi, Pertamina tidak akan pernah berkembang.
•••Fairness juga harus diterapkan Pemerintah dan DPR dalam urusan PSO BBM subsidi yang sekarang melibatkan pihak swasta asing (Shell dan Petronas) dan swasta nasional (AKR). Setidaknya harus ada pembedaan Alpha di setiap daerah, karena tingkat kesulitan dan keekonomian daerah-daerah di negara ini tidak sama."Jika BP Hilir membagi-bagi daerah distribusi tapi tidak melihat perbedaan kondisi tidap daerah dan hanya memberikan angka fix (Rp 556) tentunya ini akan menguntungkan pesaing Pertamina," cetus Direktur Pemasaran dan Niaga Achmad Faisal.Dalam penjelasannya mengenai hal ini Direktur Keuangan Ferederick ST Siahaan menyebutkan, angka Rp 556 per liter sekarang adalah dengan asumsi untuk seluruh Indonesia. Tidak dibagi per daerah. "PSO kita kan PSO paket besar seluruh Indonesia. Pertanyaannya, apakah fair satu badan usaha ditunjuk pada wilayah tertentu yang gemuk-gemuk?" kata Ferederick.Dalih Pertamina belum efisien menjadi alasan klasik pihak eksektutif dan legislatif. "Ada mekanisme yang tidak kita sepakati bersama. Stakeholders kita selalu mengatakan bahwa kita tidak efisien. Sekarang apa ukuran efisien dan tidak efisien?" gugat A. Faisal.Untuk biaya distribusi sebenarnya Pertamina sudah efisien, rata-rata setahun Rp 166 per liter. Lihat bandingkan dengan biaya distribusi BBM di Malaysia Rp 200 per liter, Thailand Rp 160 per liter walaupun negerinya kecil. India Rp 170 per liter.Dan Ferederick meyakinkan semua pihak, Pertamina jangan dibiarkan merugi, karena perusahaan yang merugi tidak akan pernah jadi efisien. "Kalau dia semakin rugi, disuruh efisien, pasti tidak akan bisa efisien, karena bisnisnya nggak jalan," paparnya.Tidak mungkin Pertamina terus ‘ngototngototan' dengan DPR dan Pemerintah. Menurut Ferederick, Pertamina bersikap realistis, karena hal itu juga sudah diputuskan RUPS, walaupun keputusan itu membawa konsekuensi kerugian Pertamina. "Kita tidak dalam posisi untuk menolak," katanya pasrah.Tak ada pilihan lain kecuali Pertamina menyiasati dengan beberapa langkah. Misalnya untuk kerugian Rp 240 miliar dalam PSO BBM tahun 2010 itu dengan beberapa langkah terobosan efisiensi dilakukan agar kerugian minimal bisa menjadi posisi impas. "Buat apa kerja tanpa keuntungan?" cetus A. Faisal.Dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2010, Pertamina mulai melakukan pemangkasan jenis anggaran yang tidak memberikan nilai tambah. Pertamina pun terus membenahi kondisi-kondisi yang membuat tidak efisien sebagai warisan masa lalu ketika pendekatan cost and fee dan karenanya tidak memikirkan efisiensi, karena filosofi pendaaan pada periode UU Nomor 8 Tahun 1971 berlaku adalah at all cost. Seluruh biaya yang dikeluarkan Pertamina untuk PSO direcovery oleh Pemerintah.Selain terobosan efisiensi, Pertamina pun mencoba mengatasi problema dana investasi dengan meneritkan sovereign bond atau obligasi internasional dan domestic untuk membiayai nilai investasi RKAP 2010 sebesar Rp 40 triliun. Investasi senilai itu 68 persen untuk sektor hulu dan 32 persen untuk sector hilir.Demi masa depan bangsa, janganlah kita ngerem laju Pertamina menuju pentas dunia dengan langkah dan keputusan sesaat dan untuk kepentingan jangka pendek. Pasti kita sebagai bangsa tidak mau kalah dan terbelakang di segala sektor, kan?•Nandang Suherlan





Target Produksi Meleset


Potensi produksi minyak yang hilang akibat penundaan proyek dan gangguan cuaca mencapai 45.775 barel per hari.
Awal tahun 2010, Menteri Keuangan Sri Mulyani kembali berhadapan dengan masalah yang sama dengan awal tahun sebelumnya. Walaupun terkesan jadi terbiasa, ekspresinya menyiratkan sikap kecewa terhadap tidak tercapainya produksi dan lifting minyak 2009. "Sayang, target produksi tahun lalu sebesar 960 ribu barel per hari realisasinya 952 ribu barel per hari. Ini mengkhawatirkan untuk 2010," katanya. Senin (4/1).
Dia pantas kecewa karena sudah jauh-jauh hari mengingatkan, jika sasaran lifting tidak tercapai, negara akan kehilangan sumber pendapatan. "Akan bolong tanpa ada kompensasi." katanya.Sebelumnya, Sri Mulyani pernah pula menegaskan agar target lifting harus realistis. "Kalau hanya pepesan kosong, saya harus cari pengganti dari mana?" ujarnya.
Meski produksi dan lifting tidak mencapai sasaran, penerimaan negara dari sektor migas melebih target Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2009, yakni 230 triliun rupiah menjadi 235 tribun rupiah. Tapi, penerimaan itu lebih rendah dari realisasi 2008 yang sekitar 350 triliun rupiah.Sementara itu, Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) melaporkan, rata-rata penurunan Indonesian Crude Price (ICP) pada 2009 sebesar 63 dollar AS per barel, sedangkan tahun lalu rata-rata 93 dollar AS per bareL Padahal, dari segi produksi, pencapaian produksi migas mengalami kenaikan yang cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya.
BP Migas juga melaporkan realisasi lifting minyak nasional hingga Desember 2009 diperkirakan mencapai 949.130 barel per hari. Jumlah tersebut naik dibanding lifting minyak 2008 yang berkisar 925.960 barel per hari. Sedangkan realisasi produksi minyak mencapai 948,48 ribu barel per hari atau 98,91 persen dari target produksi sebesar 960 ribu barel per hari BP Migas pun optimistis tahun 2010 akan lebih baik dari 2009 karena terdapat 10 kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yang profil produksinya selalu naik sepanjang tahun 2009 dan 14 kontraktor KKS yang produksinya melebihi target yang ditetapkan untuk mendukung pencapaian anggaran negara.
Berbagai Kendala
Menurut Kepala BP Migas R Priyono, tidak tercapainya target produksi tahun 2009 disebabkan adanya penundaan proyek maupun unplanned shutdown, seperti gangguan cuaca, rusaknya fasilitas produksi, masalah kelistrikan, dan pencurian. "Potensi produksi minyak yang hilang dari dua kendala tersebut mencapai 45.775 barel per hari," katanya.Dirjen Minyak Bumi dan Gas Alam Departemen ESDM Evita Legowo mengatakan kendala cuaca yang tidak menentu menyebabkan sebagian cadangan minyak tidak bisa terangkat "Tapi tidak terlalu banyak. Saat ini realisasi lifting minyak berada dalam kisaran 945.000-948.000 barel per hari," katanya.
Sebelumnya, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito Abimanyu meyakinkan target lifting yang tidak tercapai tidak berpengaruh pada postur anggaran negara. Sebab, ada faktor lain yang mampu menutup kekurangan penerimaan dari lifting. Salah satunya adalah nilai tukar rupiah yang stabil.Pengamat energi dari Re-forMiner Institute, Pri Agung Rakhmanto, berpendapat lifting minyak saat ini sudah memperhitungkan pelepasan cadangan 1 juta-3 juta barel. Dengan demikian, kemungkinan lifting minyak yang riil hanya sekitar, 942.000 barel per hari.
Agung memperkirakan produksi minyak masih sulit digenjot "Asumsi lifting 965.000 barel per hari ndak realistis. Justru sebaiknya asumsi lifting perlu diturunkan menjadi sekitar 940.000 barel per hari supaya tidak menambah risiko fiskal," kata dia.Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Migas (Aspermigas) Effendi Siradjuddin mengatakan perbedaan pernyataan antara Menteri Keuangan dan Menteri ESDM soal lifting atau produksi minyak 2009 menjadi bukti pemerintah hanya meributkan persoalan kecil dan melupakan ancaman besar soal penurunan produksi minyak.
Menurut Effendi, teknik perhitungan dan referensi yang dipakai dua departemen tersebut berbeda dan tidak bersinergi. Angka-angka tentang realisasi produksi minyak 949.000 barel tahun 2009, target produksi di APBN-P sebesar 960.000 barel, serta target produksi sebesar 965.000 barel di tahun 2010 tidak berbanding signifikan dengan kebutuhan konsumsi."Aspermigas menghitung, secara nasional kebutuhan minyak Indonesia mencapai 1,4 juta barel per hari. Padahal, dari produksi sekitar 960.000 barel per hari, sebanyak 50 persennya diekspor dan sisanya sekitar 450 ribu barel digunakan untuk memenuhi konsumsi dalam negeri. Akibatnya, kebutuhan dalam negeri mengalami defisit "Kita itu masih impor 900.000 bareL Katakanlah lifting 2010 tercapai, apa cukup menutupi kebutuhan konsumsi?" ungkapnya.
Ke depan, Effendi optimistis produksi minyak nasional masih bisa tumbuh dengan tiga catatan. Pertama, eksplorasi sumur baru membutuhkan dana besar. Untuk itu, investor harus diberi jaminan dan kepastian iklim investasi dari pemerintah (hambatan birokrasi dihilangkan, ego sektoral dihilangkan, dan tumpang tindih aturan ditiadakan)Kedua, pemerintah merealisasikan peraturannya, yakni mendorong sumur yang belum berproduksi untuk didorong berproduksi dan mempertahankan produksi. "Kalau untuk lifting tahun 2010, saya percaya tercapai, tetapi apa gunanya kalau hanya tambal sulam?" tukasnya. san/E-8





Pre Employment Training untuk ConocoPhillips


“17 tahun yang lalu saya juga duduk di sini sebagai peserta pelatihan. Kini saya telah menjadi Offshore Operation Excellence Manager dan saya merasakan benar, bahwa pelatihan yang saya ikuti dulu sangatlah bermanfaat dalam pekerjaan saya.” Demikian Heri Mutiara selaku wakil manajemen ConocoPhillips menyampaikan kebanggaannya sebagai alumni Pusdiklat Migas.Heri Mutiara mengantarkan 10 orang calon karyawan ConocoPhillips untuk mengikuti Pre Employment Training di Pusdiklat Migas. Dalam acara pembukaan pelatihan yang dilaksanakan bersamaan dengan Field Development Training program PT. Chevron Pacific Ind. dan Diklat Teknis Lanjutan I program Aparatur Negara di gedung Widya Patra 2, Mentul ini (05/10/2009), Heri Mutiara menceritakan kisah perjalanannya dan teman-temannya yang kini rata-rata telah menduduki posisi manajer dan semuanya adalah alumni Pusdiklat Migas. “Jadi mari kita fokus belajar, belajar dan belajar,” tambahnya memberi semangat bagi peserta Pre Employment Training.Ke-3 pelatihan ini dibuka bersamaan secara resmi oleh Kapusdiklat Migas yang diwakili oleh Kepala Bidang Sarana Laboratorium dan bengkel Ir. Bambang Sugito, MT.Adapun tujuan pelaksanaan Pre Employment Training ini adalah memberikan pengetahuan dan ketrampilan kepada peserta didik tentang dasar-dasar Kegiatan Industri Migas, kemudian juga memberikan pengetahuan dan ketrampilan kepada peserta didik tentang teknik Drilling dan Operasi Produksi di Lapangan serta memberikan pengetahuan dan ketrampilan kepada peserta didik tentang dasar-dasar mekanik, Elektrik dan Instrumentasi untuk menjadi teknisi di lapangan.Pre Employment Training program ConocoPhillips ini dilaksanakan mulai tanggal 05 Oktober 2009 sampai dengan 29 Januari 2010 atau sebanyak 640 jam yang terdiri dari 410 jam teori dan 230 jam praktek yang meliputi materi Boot Camp, Technical English, Fire and Fighting, Basic Geology and Reservoir, Drilling and Well Services Principles, Well Completion, Production Methods, Production Process and Facilities, Intrumentation, Mechanics, Electrical, Measurement, Well/Prod Testing, Field Study, Comprehensive Test. Field Development Training untuk PT. CPIPT. Chevron Pacific Indonesia (PT. CPI) mengirimkan 11 karyawannya ke Pusdiklat Migas untuk mendapatkan bekal pengetahuan dan ketrampilan menjadi operator produksi pada kegiatan operasi lapangan minyak dan gas bumi di Operasi Chevron Pacific Indonesia.Pelatihan dengan judul Field Development Training ini dilaksanakan mulai tanggal 05 Oktober 2009 sampai dengan 05 Maret 2010.Oleh Ketua PDC Manajemen Team PT. CPI, Jarwono, pada acara pembukaan pelatihan di Gedung Widya Patra 2, Mentul (05/10/2009), “Secara resmi kami titipkan karyawan kami untuk dididik di Pusdiklat Migas. Bagi peserta FDT, yang Anda lakukan saat ini adalah untuk Negara. Jadi kami harap Anda semua bersungguh-sungguh dalam mengikuti pelatihan ini. “Adapun materi yang telah disiapkan untuk peserta Field Development Training ini mencakup Boot Camp, Basic Science, Healt, Safety and Environmental (HSE), Technical English, Basic Geology and Exploration, Basic Drilling, Basic Well Evaluation, Basic Tools, Production Methods (including Safety Precaution), Wellhead Connection, Basic Instrumentation I, Basic Instrumentation II, Basic Electrical, Gathering Station (Operation and Trouble Shooting), Water Treating Plant, Gas Plant, Emultion and Chemical Treating, Scale, Corrosion Formation, Prevention and Monitoring, Pump System/Mechanical and Safety Precoution, Well Testing and Safety Precaution, Basic Well Service and Work Over, Oil Recovery, Storage and Shipping, Pre Test and Post Test, Practice Test, Field Study and Comprehensive Test.